Radio Pas Pati 101 FM

Saluran Informasi Warga Pati

    • 52,661 hits
  • network
    Daftar Domain Gratis disini...
  • RSS BERITA TERBARU

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Network

    network network
    Cari Duit Hanya 15 Menit...

Seluruh Kawasan Pantai Di Kabupaten Pati, Masih Perlu Penghijauan

Posted by pasfmpati pada Desember 13, 2008

pasfmpati.net [Pati, Kota] – Kawasan pantai di Kabupaten Pati, yang membentang di lima puluh satu desa sepanjang enam puluh satu kilo meter, masih membutuhkan sentuhan penghijauan. Hal itu terjadi, akibat pembukaan tambak baru yang serampangan, maupun abrasi akibat gelombang pasang.
Perusakan hutan mangrove di pantai utara Kabupaten Pati, sepanjang enam puluh satu kilo meter, selain diakibatkan adanya pembukaan  tambak baru,  juga karena sikap pemerintah setempat yang dinilai setengah hati dalam menegakkan Perda yang sudah ada.
Akibat kerusakan ekosistem hutan mangrove  ini, nelayan tradisional di pantai utara Kabupaten Pati mengaku,  mengalami penurunan hasil tangkapannya, dan petani tambak udang maupun bandeng banyak yang merugi akibat gagal panen.  Selain itu, kesuburan tanah turun.
Ketua Konsorsium Masyarakat Pesisir Pati [KMPP], H.M. Nur Sukarno menilai, kerusakan hutan mangrove dipantai utara Kabupaten Pati sejak beberapa tahun ini, karena rendahnya kesadaran masyarkat mengenai manfaat kawasan mangrove.  Selain itu, Peraturan Daerah  Kabupaten Pati Nomor 4 tahun 2003, yang mengatur tentang Pengeloloaan Wilayah Pesisir dan Laut, belum dilaksanakan dengan benar.  “Dengan adanya  hal ini, maka  kita tetap dorong terus  tim  pentaatan  Perda Kabupaten Pati,  supaya jangan sampai gentar. Karena ini  tidak hanya memikirkan  masyarakat setempat, tetapi  masyarakat Indonesia bahkan dunia, terkait isu global warming”, tuturnya.
Untuk pelestarian hutan mangrove,  tutur Ketua KMPP, HM Sukarno, Pemkab Pati sudah memang sudah mengeluarkan larangan. Bentuk larangan itu, menekankan pada pembukaan areal tambak baru pada radius jarak 100 meter dari batas pasang tertinggi.   Sebagai tanda batas telah dibuat patok beton yang cukup jelas. Tapi larangan itu tetap dilanggar.  Bahkan  pembukaan tambak baru di wilayah tanah timbul atau akresi di pantai yang sudah jelas dilarang di dalam perda, juga turut dilanggar.  “Kalau ini tidak ada tindakan tegas yang merupakan efek jera, otomatis gerakan untuk mengembalikan lingkungan atau ekosistem hutan mangrove, otomatis tidak akan berhasil. Bahkan  yang selama ini diupayakan masyarakat maupun pemerintah akan gagal total”, jelasnya.
Di Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti, akibat kerusakan kawasan mangrove ini,  sekitar 76  petak tambak sejak tahun 2006 hingga 2008, hilang.  Dan untuk mengembalikan kawasan yang hilang itu,  masyarakat dan pemerintah  terus mengupayakan kembali penanaman mengrove.
Menurut Ketua Kontak Tani Mina Makmur Desa Puncel Dukuhseti,  Sumarlan, dari sekitar  tiga koma satu kilometer kawasan mangrove yang rusak,  satu setengah kilometer diantaranya berhasil kembali dihijaukan dengan tanaman bakau dan api – api.  “Kami sejak tahun 2002 melakukan penanaman, bahkan kami telah melakukan kerjasama dengan lingkungan hidup Semarang.  Kemudian dari GNRHL juga pada tahun 2005 dan 2006. Dari 2 kali kegiatan, kami mendapat 80 hektar”, tutur Sumarlan.
Bahkan belakangan ini, nelayan tradisional di Puncel, tutur Sumarlan, sudah mulah menikmati hasilnya, dengan memanfaatkan perairan di sekitar kawasan mangrove.   Dengan keberhasilan ini,  tutur Sumarlan, perlu adanya dukungan dari Pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan mangrove.  Terutama   didesa – desa  yang  kawasan pantainya belum ada  kawasan mangrovenya, seperti Desa  Jembangan, Ketitang Wetan, Bumimulyo  dan Desa Lengkong Kecamatan Batangan.  “Begitu air pasang, mereka tebar jaring kecil, dia dapatnya blanak, udang,  dan kepiting-kepiting itu.  Dan pada saat ini, pas panen raya  biji brayonya, yang biasanya untuk cemilan”, terangnya.
Namun belakangan ini, kerusakan kawasan mangrove di pantai utara Kabupaten Pati kembali terjadi, menyusul adanya pembukaan  lahan untuk tambak baru, yang dilakukan oleh sebuah Yayasan Pendidikan di Desa  Tlogoharum Kecamatan Wedarijaksa.  Kawasan hutan mangrove yang dibuka untuk tiga  areal tambak tersebut, mencapai luas empat hektar.
Menurut Kepala Seksi Pengendalian dan Pengawasan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Kab Pati, Ir Pudjo Setijanto, selaku Sekretaris Tim  Penataan Perda  Pesisir mengatakan,  sampai sekarang kasus  perusakan  kawasan pesisir   di Desa Tlogowharum Kecamatan Wedarijaksa,  sepenuhnya sudah diserahkan kepada kewenangannya kepada Polres Pati, selaku penyidik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: